Rebut Telkomsel & Indosat dari Temasek !!!
Posted on 14th August 2007 by Tri BasoekiTemasek Holdings yang telah menguasai aset Telkomsel dan Indosat makin berkibar. Peran pemerintah sebagai salah satu pemegang saham justru dirasakan makin redup. Sejak itu, tujuan industri Telekomunikasi untuk kemakmuran rakyat Indonesia semakin jauh panggang dari api.
Kita ketahui sepenuhnya bahwa Singapura bermain secara langsung atas dua korporasi telekomunikasi selular besar di Indonesia, yaitu:
Salah satu pertimbangan bagi Singapura untuk menanamkan uangnya di Indonesia adalah karena dua hal penting:
- Ekonomi, masih besarnya peluang tumbuh pasar telekomunikasi di Indonesia
- Strategis, kepentingan penguasaaan atas aset Indonesia
Masalah timbul dengan atau tanpa disadari oleh pelanggan ketika kisruh dan perang operator dimulai. Sedemikian rupa menjadikan pelanggan sering dan (atau harus ?) mempergunakan dua atau lebih nomor seluler, yang dimaksudkan sebagai strategi bagi pelanggan untuk melakukan penghematan. Namun, tanpa disadari hal ini adalah masuk dalam skema peningkatan ARPU (Average Revenue Per User) dari setiap operator, sehingga pelanggan secara sadar atau tidak sadar “dipaksa” untuk lebih rajin isi pulsa untuk berbagai nomornya tersebut.
Siapakah yang diuntungkan?
Tentu saja operator atau lebih spesifiknya adalah para pemegang saham (share holder) operator-operator tersebut.
Sialnya, dari dua operator besar yang ada, dalam hal ini Telkomsel dan Indosat, ternyata sebagian besar saham mereka dimiliki oleh asing, dalam hal ini Singapura. Secara to the point, pucuk dari Singapura tersebut berujung pada Temasek Holdings.
Dengan memperhatikan hal ini, bisa saja diasumsikan bahwa kisruh operator, dalam melakukan pemasaran, sengaja dibuat carut marut dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham asing.
Pada sisi lain, dengan memperhatikan adanya ujung yang sama antara pemegang saham Telkomsel dengan Indosat, maka ini berarti telah terjadi monopoli oleh pemegang saham yang sama. Secara politis dapat dipahami bahwa eksistensi pejabat Indonesia masih “kalah berpengaruh” dengan “pejabat singapura”. Walaupun komposisi saham Singapura kecil tetapi dapat mengontrol setiap asset yang mereka miliki secara keseluruhan.
Kegiatan monopoli ini secara de-facto dan de-jure menurut hukum Anglo-Saxon maupun Kontinental merupakan pelanggaran. Entah bagaimana Temasek Holdings ini bisa melenggang dengan santainya menguasai korporasi besar Telekomunikasi milik Indonesia di Indonesia.
Formula penguasaan pasar secara besar bisa dibuktikan sebagai berikut:
Total jumlah pelanggan Telkomsel + Pelanggan Indosat = lebih besar dari 50% total pelanggan seluler Indonesia.
Sayangnya, Excelcomindo yang katanya dimiliki oleh Telecom Malaysia, ternyata masih tersangkut pula dengan Temasek Holdings. Dengan demikian jelaslah bahwa pasar seluler dengan basis teknologi GSM di Indonesia telah dikuasai oleh Temasek.
Jadi Temasek sudah ada dimana-mana.
Bila Excelcomindo sudah bukan milik bangsa Indonesia, setidaknya kita harus menyelamatkan Telkomsel dan Indosat dari Temasek.
Lalu muncul sebuah pertanyaan besar: apakah Telkomsel, Indosat dan pemerintah Indonesia sadar akan hal ini?
Technorati Tags: telkomsel, indosat, temasek
Popularity: 6% [?]
United Coders
Komplek Dai-Chi Kav 47 Antapani - Bandung
022-7104067, 022-92888777
http://voucha.net
Termasuk juga pertanyaan lain:
Sadarkah Bangsa Indonesia, bahwa sebelumnya telah memilih penguasa yang telah menjual:
* Indosat
* VLCC Pertamina
* Telkom Divre Jateng/DIY
CMIIW
Ada cara lain, yaitu membesarkan operator lain yang masih dimiliki oleh Indonesia. Apakah opsi ini tidak pernah terpikirkan?
Baca juga di :
http://ketuaperusuh.wordpress.com/2007/04/30/strategi-temasek-group/
Kapan yaa,… Kita menjadi Raja di Negeri kita sendiri ….
Mungkin Mimpi kali yeee..
Nuhun..
@Budi Rahardjo
Operator lain yang kita miliki? maksud Bapak yang dimiliki oleh pemerintah khan? TELKOM kah maksud Bapak?
setuju, tapi apa bisa diambil alih ya? maksudnya apa temasek mau melepaskan sahamnya? maksudnya yang sudah punya duit beli dikit2 kalau orang 1000 yang beli kan jadi banyak, he he he
barangnya udah dijual, uangnya udah diambil, skrg baru “nyadar” trus marah-marah?
itu sih gampang.. asal duitnya cukup aja
Daripada dipegang oleh ‘bangsa sendiri’ harganya mencekik leher sehingga komunikasi seluler menjadi barang mewah, mending dipegang bangsa lain yang akhirnya bisa memberikan yang terbaik buat pelanggannya.
Buat Temasek ya ‘nothing personal, its just bussiness’.
Kalo bisa dikelola sendiri dengan lebih baik ya mending diambil alih, tapi kalau gak lebih baik ya buat apa?
Waktu saya mengurus ijin tinggal buat anak istri, yang mempersulit urusan kami adalah KONJEN INDONESIA di Johor. Bukan Jabatan Imigresen Malaysia.
@rachmat, “nothing personal”? jangan lekas percaya, mereka punya agenda politis strategis yang baru akan dipakai dikemudian hari.
.
@enda, kalo gak salah dulu sebelum dijual udah banyak juga tuh yang ngasih tahu supaya jangan dijual ke asing termasuk Pak Amien. Tapi ya gitu deh… gak didengerin.
.
@sumodirjo, saya juga punya pertanyaan yang sama, seandainya kita/pemerintah punya dana untuk beli kembali apakah ada instrumen hukum/politik yang bisa dipakai untuk bisa memaksa mereka melepas saham indosat?
Gue setuju BUMN di privatisasi, isinya cuma KKN doang.
emangnya lo ngk inget sebelum dijual tuh tarif telco mahal bgt.
Kalau ngk ada kompetisi mana ada tarif flexi 49/menit.
Kalau emang Telkomsel & Indosat makin berkibar karena mereka profesional kali, jangan cuma bisa ngiri dong.
sebelum di jual vendor mereka semua dari Europ dan US, yang harganya fantastis, jadi yg diuntungkan juga adalah vendor.
Setelah dijual semua beralih ke made in China and made in India, harganya murmer.
Yang namanya orang bisnis yah pengennya untung gede bos.
Kalau emang idealis bgt yah pake aja operator milik Indonesia, Telkom.
Jujur aja deh bos walaupun Telkom semakin membaik, tapi masih byk juga KKNnya karena sudah jadi budaya.
* Bangga menjadi orang Indonesia *
Saya sangat2 sangat sangat setuju kalo di pegang oleh negara ASING. Kalo di pegang ama INDONESIA,saya yakin ,tarif komunikasi mahalnya minta ampun.
Banyak buktinya kalo NEgara Asing itu lebih menghasilkan yang berkualitas dari pada negara sendiri. Buktinya,punya sendiri di jual,gimana bisa berkualitas.
Secara tidak langsung ya negara asing menuai keberhasilannya dengan profesionalitasnya. Kalo negara kita Menuai keberhasilan kalo habis absen duduk di warung kopi lalu ke pasar malak – in rakyat.
95% negara indonesia masih tetap saja di jajah. Ntah kapan bisa maju.
pada ngeributin dijual asing ama dipegang kendiri
Koruptor
sebenarnya mau dipegang asing ama dipegang lokal sama aja kalo masalah korupsi pasti ada
tapi masalahnya sekarang pemerintah jual itu bukan karna ngurangin korupsinya
tapi ngurangin pusingnya
Indonesia Berdaulat?…
62 tahun yang lalu tepat tanggal 17 agustus pagi hari terjadi peristiwa bersejarah di depan sebuah gedung yang tidak terlalu besar di jalan Pegangsaan Timur no 56, Jakarta, seorang negarawan, Bung Karno membacakan selembar script yang dikenal dengan Na…
Kalau menurut saya sih dunia politik betul2 kotor saling menjatuhkan dan saling membunuh asal bisa jadi orang no 1 sedunia apa saja pasti di lakukan itu sama dengan hukum rimba dari pada pusing pikirin politik bagi rakyat indonesia sekarang yang sangat perlu itu gimana bisa MAKAN jadi hemat saya mending mereka korupsi asal negara aman dan rakyat tidak di susahkan dengan segala macam pemerasan dari pemerintah dengan alasan mengisi kas negara, Mending Soeharto walaupun korusinya gede tapi negara aman tidak kacau balau kayak sekarang ini
makanya kalo mau ngejual aset tuh mikir2 dulu napa…. sekarang pas lagi pemerintah butuh operator untuk kebijakan telekomunikasinya baru kebakaran jenggot. Kalo cuman ngejual terutama aset sekelas indosat dengan harga super murah sih anak SD juga bisa. Makanya kalo bikin kebijakan tuh mikir dulu napa… kalo sekarang udah terlanjur gini mah apa boleh buat Temaseknya juga ga bakal mau ngejualin saham Indosat lagi kan? Namanya juga bisnis dan politik yang ada hanya keserekahan dan kita hanya bisa merenungi kebodohan kita :p
sayang komentar di blog ini tidak memuat alasan dari sisi ekonomi/keuangannya, kalo gak ada itung-itungan dari sisi ekonomi/keuangan gimana mau diaduin ke komisi anti-monopoli?
Yang asli kepunyaan Indonesia kayaknya ESIA Deh,
…………………Benar????
…………………..Mau????
no comment lah… semuanya BODAT… manusia sekarang banyak yg hatinya jadi HATI BODAT.
satu legi neh.. makanya jangan sekali nyoba2 makan uang haram.. kalo dah sekali makan uang haram, sampai anak cucu kita otaknya pun gak sehat dan normal lagi. ya itu tadi, jadi OTAK BODAT..
Kapankah “uneg2″ yang dah dengan berbagai macam latar emosi ini bisa di baca PRESIDEN?????
Dalam penjualan saham-saham BUMN termasuk INDOSAT dan TELKOMSEL Megawati harus bertanggung jawab karena mulai dijualnya semasa pemerintahan Megawati dengan menteri BUMN Laksama Sukardi harus digiring ke meja hijau.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Ibu Megawati kaya bukan seorang ibu aja yang halus perasaannya kenapa BUMN sekelas INDOSAT dijual apakah ibu tidak tahu efeknya, makanya jika PEMILU Legislatif Maupun Presiden. aku dan perempuan sunda mungkin tidak akan nyoblos PDIP dan milih Ibu jadi Presiden !!!!!
Ingat stiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di dunia maupun di akhirat. Jika lolos di dunia, tunggu tanggal mainnya di Akhirat.
Jangan pusing2, Indonesia emang isinya Kucing Garong
CRIMINAL CAT kata Tukul
Kita sebagai orang indonesia kadang2 masa bodoh dengan nasib bangsa ini. kesadaran kita sekarang sudah mulai memudar. Salah satu halnya mengenai saham asing yang sebagian telah tertanam di indonesia ini. Mereka cenderung masa bodoh dengan kepemilikan Singapura terhadap kepemilikan operator sellular tersebut. Kalo bukan kita yang memikirkan siapa lagi coba? Tanyakeun NAPA!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!
Bodo amat….!!!!
Yang penting RF w menang..!
dari http://hukumonline.com/detail.asp?id=16633&cl=Berita
Ada Konspirasi di Balik Buy Back Indosat
[2/5/07]
Belum kelar kajian Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap keberadaan Temasek di Indosat. Tiba-tiba muncul dugaan adanya konspirasi di balik buy back saham Temasek di Indosat.
Isu konspirasi ini bisa dikatakan cukup menghebohkan. Selain diduga melibatkan pejabat KPPU, juga diduga melibatkan pejabat di Kementerian Negara BUMN dan bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Munculnya dugaan konspirasi ini bermula dari dua lembar faksimili yang diterima Hukumonline akhir pekan lalu. Press release bertajuk ‘Konspirasi Perusahaan di Balik Isu Buy Back Indosat’ itu memaparkan secara gamblang sebuah konspirasi yang disponsori perusahaan asal Rusia, Altimo-Alfa Group—dalam skenario buy back Indosat.
“Setelah diselidiki, ternyata ada kepentingan kelompok usaha asal Rusia yaitu Altimo-AlfaGroup yang mendalangi gencarnya tuntutan buy back tersebut. Altimo-AlfaGroup mencoba menunggangi isu buy back Indosat untuk mengambil keuntungan bisnis mereka,†demikian petikan press release yang ditandatangani Musarman, Koordinator Institute for Analysis of Information and Technologies Business (IA-ITB).
Dalam press release itu disebutkan bahwa Altimo-AlfaGroup adalah bagian dari Alfa Group, sebuah konglomerat raksasa di Rusia. Altimo-Alfa menyediakan tak kurang AS$ 2 miliar untuk membeli saham Indosat. Dengan dana AS$ 2 miliar ini pemerintah akan membeli 41,9 persen saham Temasek di Indosat.
Rencananya, saham tersebut akan dibagi dua. Pemerintah akan mendapat 15 persen, dan Altimo-AlfaGroup mendapat 26,9 persen. Namun, saham senilai 15 persen ‘hadiah’ dari Altimo-AlfaGroup tersebut bukanlah gratis. Pemerintah harus membayar kembali melalui dividen yang didapat.
“Cara ini yang dilakukan Altimo-Alfa untuk mengambil alih saham-saham telekomunikasi di negara dunia ketiga. Dan, Altimo hendak menjadikan Indosat sebagai tempat pencucian uang (money laundering) hasil aktivitas bisnis ilegal mereka di Rusia,†demikian stateman lain press release itu.
Saat ini ditengarai perwakilan Altimo-Alfa di Jakarta tengah sibuk melakukan lobi untuk memuluskan rencana Altimo-Alfa membeli saham Indosat. Lobi itu ternyata juga didukung dengan kekuatan finansial.
Dalam press release itu dipaparkan bahwa dana Rp 10 miliar siap digelontorkan untuk setiap anggota DPR yang berhasil di lobi. Selain itu, pimpinan dan anggota KPPU juga menjadi target untuk memuluskan rencana Altimo tersebut. Kompensasi sebesar Rp 5 miliar untuk urusan lobi ini diyakini telah disiapkan.
Yang tak kalah menarik, lembaga INDEF disebut dalam press release itu diduga telah dibayar Altimo sebesar Rp 3 miliar. Dana sebesar itu dipakai untuk membuat kajian mengenai monopoli Temasek. Kajian ini akan dijadikan bukti pada pengadilan di KPPU nantinya
Bukan Isapan Jempol?
Belum jelas kebenaran dari isi press release itu. Musarman yang menandatangani press release bak ditelan bumi. Dihubungi sejak Senin (30/4) hingga berita ini diturunkan, telepon selulernya selalu bernada sibuk. Demikian juga dengan Suharto—seseorang yang disebut dalam press release itu sebagai perwakilan Altimo-Alfa di Jakarta—telepon selulernya selalu dalam posisi OFF.
Meski belum jelas, isu adanya perusahaan Rusia yang hendak membeli saham Temasek di Indosat telah bergulir cepat. Apalagi, sinyal keinginan perusahaan Rusia ini yang ingin menancapkan bisnisnya di industri telekomunikasi Indonesia telah lama dilontarkan. Boleh jadi, ini bukan isapan jempol semata.
“Kami menyadari tidak banyak investor asal Rusia yang menanamkan modalnya di Indonesia, tetapi bagaimanapun harus ada yang memulai,†kata Kirill Babaev, salah seorang Vice President ALTIMO, dalam kesempatan jumpa pers di Jakarta pada penghujung tahun lalu.
Kirill tidak memungkiri bahwa keputusan ALTIMO untuk melakukan investasi di Indonesia merupakan ‘buah’ positif dari kunjungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono awal Desember lalu ke negeri Beruang Merah itu. Selain itu, ALTIMO juga melihat ada potensi pasar yang cukup besar pada bisnis telekomunikasi Indonesia.
Andrei Zemnitsky, Vice President ALTIMO, mengatakan ALTIMO sudah membidik beberapa perusahaan telekomunikasi Indonesia. Investasi akan dilakukan pada tahun 2007 dengan membeli 20 persen hingga 30 persen saham perusahaan telekomunikasi.
Dia mengisyaratkan pilihan ALTIMO tidak akan beranjak pada tiga perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini, yakni Indosat, Telkomsel, dan Excelcomindo. Dana segar yang disediakan pun tidak tanggung-tanggung, 2 milyar dollar AS yang akan dikonversikan dalam bentuk kepemilikan saham di beberapa perusahaan telekomunikasi nasional.
Sinyal ini diperkuat dengan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam berbagai kesempatan menyatakan, pemerintah ingin membeli kembali saham Indosat. Tak hanya itu, sejumlah kalangan di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah terus berupaya menggalang dukungan untuk mendorong rencana tersebut.
Bahkan, ada dugaan pemerintah Indonesia telah mengadakan serangkaian pertemuan dengan Altimo, anak perusahaan Alfa Group. Berdasarkan dokumen yang ada, pertemuan itu digelar di Jakarta, Moskow, dan Dubai. Pemerintah diwakili Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sugiharto dan timnya. Dokumen internal Altimo itu berisi poin-poin yang mesti disampaikan oleh perwakilan Altimo di Jakarta kepada Wakil Presiden dan Menteri Negara BUMN.
Ramai-ramai Klarifikasi
Tentu saja, yang paling tersodok adanya isu di atas terutama soal ‘biaya lobi’ adalah Didik J Rachbini. Ketua Komisi VI—yang disebut dalam press release yang berhasil dilobi pihak Altimo-AlfaGroup–ini menandaskan bahwa itu bisa dikategorikan sebagai contempt of parliament. “Kalau perlu kita akan memanggil Musarman dan pihak terkait lainnya. Biar masalah ini kelar,†jawabnya melalui pesan singkatnya (SMS).
Jawaban hampir senada disampaikan oleh anggota Komisi VI lainnya, yakni Fachri Hamzah (Fraksi PKS), dan Nusron Wahid (Fraksi Partai Golkar). Keduanya, juga disebut dalam press release itu yang telah berhasil dilobi pihak Altimo-Alfa Group.
Ketua KPPU Muhammad Iqbal yang juga dituding telah menerima ‘pelicin’ sebesar Rp 5 miliar dalam pemeriksaan terhadap Temasek pun hanya geleng-geleng kepala. “Itu tidak masuk akal. Saya sendiri tidak tahu menahu soal tuduhan itu,†ujarnya.
KPPU, lanjut Iqbal hanya memeriksa, apakah kasus Temasek itu telah melanggar UU No. 5 Tahun 1999 atau tidak. Dan, apakah suatu persaingan usaha itu sehat atau tidak. Dalam perkara temasek ini, KPPU mendasarkan pemeriksaan pada 3 pasal, yaitu Pasal 17, Pasal 25 dan Pasal 27. “Lebih sedikit dari pasal-pasal yang dituduhkan FSP BUMN,†akunya.
Menanggapi tudingan bahwa KPPU terlalu memaksakan diri memeriksa kasus Temasek padahal kasus itu sudah kadaluarsa, Iqbal menjelaskan bahwa KPPU berpedoman pada Peraturan Komisi No.1 tahun 2006. Begitu ada laporan yang dilayangkan, hal itu tidak semerta-merta dianggap sebagai laporan resmi. Ada klarifikasi dulu sebelumnya, misalnya identitas pelapor.
Menurut Iqbal, KPPU secara resmi mencatat laporan dari FSP BUMN pada 22 Desember 2006. Setelah diterima, proses berikutnya adalah klarifikasi yang dapat memakan waktu selama 30 hari. Dan, jika dianggap perlu dapat ditambah 30 hari lagi. Disini KPPU-pun sudah memintakan cross-check kepada Indosat dan Telkomsel. Jika memang ada bukti awal pelangaran UU No. 5 tahun 1999, maka perkara masuk ke tahap pemberkasan, dimana rentang waktunya juga selama 30 hari.
Pemeriksaan pendahuluan merupakan kelanjutan dari proses pemberkasan. Awal April lalu, KPPU baru membentuk tim pemeriksaan pendahuluan untuk perkara Temasek ini. “Jadi tidak ada itu daluwarsa. Semuanya on-time. Kalau ada yang bilang daluwarsa, hitungannya darimana?†seloroh Iqbal.
Sementara itu, Koordinator Federasi Serikat Pekerja BUMN (FSP BUMN) Arief Poyuono mengaku telah mendengar tentang adanya isu konspirasi di balik buy back Indosat. Bahkan, ia juga mendengar bahwa Altimo-Alfa ini telah menunggangi laporan FSP BUMN ke KPPU soal Temasek itu. Altimo-Alfa juga aktif mengkondisikan ekspose besar-besaran aktivitas FSP BUMN melaporkan Temasek ke KPPU.
Meski demikian, Arief mengaku tidak begitu mengenai sosok Musarman. “Ia pernah menelepon saya dan tanya soal kasus Temasek. Secara fisik, saya belum ketemu. Saya sih menduga, mungkin ada benarnya apa yang diungkap dalam press release itu,†paparnya. Nah, lo??
Makanya rakyat Indonesia itu kalau milih presiden itu yang pinter…orang pinter ya sekolahh….MInimal lulus S1 atau Akademi(Polisi atau ABRI ) ……..negara itu ibarat medan perang…keputusan pemimpin itu yang menentukan menang perang….kalau pemimpinya BEGO yaaa kaya gini deehh…
@Dadang RS
@Fenty
menurut 2 referensi diatas….Bu Mega….Sebagai pemimpin Indonesia waktu kejadiaan…bagaimana pertanggung jawabannya???Jujur aja singtel.telkomsel,indosat gak salah….yang salah ya pemimpin dan rakyat indonesia (termasuk aq)..
1 kenapa jual BUMN???
2 Kenapa dijual ke singtel???
3 dijual dg harga murah ???
yang berhubungan langsung ma keputusan ya bu Mega
anak Tk aja tau…dari UUD45 ada pasal bahwa BUMN itu milik negara..Bung karno (bapak sampeyan) yang termasuk yang buat UUD45…masak amanat orangtua sendiri gak di jalani…apalagi amanat rakyat…red
jangan asal jual aset bangsa BUMN seenak udelle.
rakyat lahh…yang menangissssss ….sekalian aja Negara indonesia dijual…biar sampeyan jadi presiden terakhir………….(wahhhh gua jadi WNA dongg)
Menyikapi yang telah berlalu… …alangkah baiknya yang membeli indosat bukan pemerintah….ntar pemerintah monopoli dong mempunyai TElkom ma indosat….usulinn aja di beli pengusaha indonesia aja…trus singtel juga ditendang aja …karena menurut aq dia terlibat politik dengan pemerintahan..dengan adanya persaingan yang sehat antara Xl(temasek),Indosat(xxx),Telkomsel(Telkom) maka rakyat indonesia bisa menikmati pembangunan di sisi telekomunikasi dengaan harga pasar yang lebih murah
…….
hidup indonesia rayaaaaa………jayalah negriku
Inndonesiaaa tercinta
n pemerintahan
Dulu waktu Indosat mau dijual kan sudah banyak yang mengingatkan klo itu adalah tindakan bodoh. Sekarang gimana, temasek gak mau nglepasin sahamnya dari Indosat maupun telkomsel. Pemerintah sudah salah sejak awal.
Temasek seharusnya beli indosat, bawa duit dong dari singapura!!!!!!!!!! bukan pinjem BNI,,, negara Indonesia Rugi dua kali. Indonesia jangan mau kalah sama singapura & negara tetangga lainnya…. kita harus berjuang mengalahkan mereka….. MERDEKA!!!!!!!!!
Mungkin Megawati tidak paham, khan dia bukan Soekarno?
Cuman kebetulan anak Soekarno yang dikumpuli oleh para “kucing garong”, sialnya anak yang satu ini T*L*L, jadi gak ngerti dimanfaatkan sama “kucing garong” yang ada disekelilingnya… bener gak mas E***?
BAHWA KEPUTUSAN KPPU ITU SANGAT LEMAH KARNA KPPU SENDIRI DI TUNGGAGI OLEH PERUSAHAAN ALTIMO DARI RUSIA.KARNA PERUSAHAAN ALTIMO RUSIA INGIN MENANAMKAN SAHAM YAH KE INDONESIA MELALUI PERUSAHAAN INDOSAT. SEBENARNYA PERUSAHAAN TEMASEK DARI SINGAPURA TIDAK ADA CACAT HUKUM DI MATA INDONESIA.INI ADALAH BUATAN KPPU UNTUK MEMUTUSKAN BAHWA PERUSAHAAN TEMASEK SINGAPURA ITU BERSALAH.ADA APA DENGAN NEGARA INDONESIA INI?
DARI
PERHIMPUNAN PENYELAMAT NKRI
Perusahaan Asing Berebutan Pangsa Pasar Seluler di Indonesia
Konon beredar kabar bahwa issue monopoli TEMASEK HOLDING terhadap dua perusahaan seluler raksasa Indonesia (baca: TELKOMSEL dan INDOSAT), mulai tercetus dan disebarluaskan pertama kali oleh pihak Malaysia secara diam-diam.
Dahulu Malaysia hendak mencaplok TELKOMSEL dan/atau INDOSAT, namun mereka ternyata kalah cepat dari Singapura. Akhirnya, Malaysia “hanya kebagian jatah†mencaplok EXELCOMINDO PRATAMA (XL), dan menjadikan XL sebagai salah satu anak buah perusahaan mereka; a TM company (TM = Telecom Malaysia).
Dengan semakin kuatnya issue monopoli TEMASEK ini, mereka mengharapkan agar setidak-tidaknya pihak TEMASEK harus rela melepaskan saham-sahamnya dari TELKOMSEL atau INDOSAT. Kemungkinan saham-saham yang akan dilepas tersebut kemudian dibeli, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, oleh pihak Malaysia (selain di bawah bendera TM tentunya) adalah cukup besar.
Mengingat bahwa pemerintahan Malaysia dan kroni-kroninya, sedang gencar-gencarnya giat melakukan aksi “Malingsia†(baca: Malingin Indonesia) terhadap Indonesia semenjak beberapa tahun silam. Dari mulai Ambalat, Sipadan-Ligitan, Batik, Angklung, Tempe, Lagu Rasa Sayange, hingga Tari Reog Ponorogo yang beritanya kini sedang hangat-hangatnya.
Mereka pun berhasrat ingin mendominasi/menguasai pangsa pasar seluler kita (bukan selular = celana dalam, versi bahasa Malaysia). Kalian masih tidak percaya? Biarlah waktu yang akan membuktikannya!
Mari Kita Ganyang Malaysia!!!
MERDEKA!!!
See also:
http://www.temasekholdings.com.sg/media_centre.htm
http://www.temasekholdings.com.sg/pdf/1.%20Background%20summary.pdf
yang sudah terjadi terjadilah. mulai sekarang saya cuma mau kampanye anti singapura. ayo orang miskin se indonesia jangan mau pake produk indosat. buat apa memperkaya orang kaya. mendingan cari operator lain selain indosat.yang penting asal bukan indosat. kalau saja orang miskin indonesia mau memboikot indosat , udah nggak perlu pake cara kekerasan. ketauhuilah indosat itu sekarang milik singapura negara tempatnya surga koruptor + zionis + maling + rampok + neraka jahanam surga dunia. mikir to mikir pemimpin indonesia jangan cuma beraninya sama orang miskin. sama orang kaya rampok koruptor bejat kerah putih malah dikasih karpet merah.
Yah.. yang nge-jual pada era pemerintahan Megawati,
udah kejadian gini mah susah kali bagi pemerintah sekarang ini kalo mo merebut kembali.
Bagi gw siy gak masalah mo dipegang ama sapa aja, yang penting tarif murah. Sekarang tinggal masalah kelistrikan niy yang masih di monopoli PLN sehingga tariff listrik masih mahal
Aku baca semua, aku pikirkan solusinya, aku tuangkan di sini……
lebih baik coba kita berkaca dan merenung-kan langkah kita selama ini.
bukan untuk disesali, tapi ambil hikmah yang ada.
ingat pesan Bung Karno… wahai rakyat ku kita sekarang telah merdeka tapi ada perang yang akan terus berlangsung yaitu: perang dengan bangsa kita sendiri.
terus kalau dah dikasih tau gitu, seharusnya kita sadar musuh kita tidak jauh tapi ada disekitar kita, dan yang selalu menzolimi kita hari-demi hari, dengan minyak tanah, bengsin, minyak goreng, dan tetek bengek lainya.
haruskah,….. kita sekarang percaya 100% terhadap pemimpin yang terus bermimpi, tapi tidak bangun dan sadar dia berkuasa dan bisa dengan tangan2 nya untuk memusnahkan pesaingnya agar tidak ada keruntuhan kejayaan seperti pada waktu kita masih kerajaan.
yang lalu biarlah berlalu, untuk kedepannya nanti mari kita jaga salah satu perusahaan telekomunikasi di indonesia yang tidak dikuasai oleh orang asing (milik orang indonesia sendiri)………………………………….!!!
majulah pengusaha pribumi !
Memakmurkan rakyat ?. Rakyat yang makmur artinya mendapat manfaat yang lebih banyak dari suatu kegiatan ekonomi. Dalam hal bisnis telekomunikasi, apabila bisnis komunikasi dikuasai pemerintah maka diharapkan seluruh keuntungan dapat dikuasai oleh pemerintah. Pemerintah dapat keuntungan lebih banyak. Karena pemerintah kita juga dari rakyat kita sendiri maka keuntungan yang kita peroleh akan dikembalikan kepada rakyat. Artinya rakyat menjadi makmur. Rakyat yang makmur juga dapat berarti rakyat membayar lebih murah/sedikit. Dibanding sebelumnya, tarif telepon seluler saat ini sangat jauh lebih murah. Dalam hal ini, jelas rakyat juga lebih makmur khan?. Faktanya saat ini pemain besar telekomunikasi (Telkomsel, Indosat, Xl) dikuasai asing dan tarif yang kita nikmati memang murah. Pemerintah yang pintar, cerdas tentunya pandai memanfaatkan situasi ini dengan tetap mengelola persaingan diantara para penguasa bisnis telekomunikasi ini agar tetap bisa memakmurkan rakyatnya dengan tetap menjaga agar tarif mereka tetap murah. Sekarang tinggal pilih yang mana untuk membuat rakyat makmur. Keduanya bisa bikin rakyat makmur bukan?. Hidup memang harus memilih kan. Masalah agenda politik para penguasa telekomunikasi dan juga negara asal mereka, kita negara berdaulat, sebelum mereka berbisnis di Indonesia, buat aturan yang memihak ke rakyat saat ini maupun yang akan datang. “Resources bukan hanya di negara kita tapi juga seluruh dunia, manfaatkan seluruh resources yang ada didunia termasuk milik bangsa lain untuk memakmurkan rakyat kita. Untuk itu jadilah bangsa yang cerdas dan berwawasan dunia. Jadikan Hari Kebangkitan Nasional menuju manusia Indonesia yang cerdas.
Yang salah ya pemerintah Indon, termasuk orang2 DPR dan 3 orang yg pernah jadi presiden : Gus Dur, Mega & Yudhoyono. Soalnya ga bakalan ada pembeli barang kalo barangnya ga dijual. Kalo seperti ini dari pada cuman misuh-misuh,mengumpat+ngomel ga jelas, solusinya ya gampang aja, pindah kewarganegaraan (jadi Malay or Singapore gt) itu solusi yang tepat.
Di negeri ini ada masalah mentalitas yang jelek. Kebetulan sistemnya demokrasi ya jadinya banyak orang2 bloon milih orang2 bloon untuk ngatur negara. Percuma mo ngebetulin ngeri ini, hampir dipastikan tidak bisa karena berhadapan dengan begitu banyak orang yang bosok mentalitasnya.
Negara kita ini sudah kacau balau… dan seolah pantas di obok-obok Malaysia dan Singapore.
Dari uang Excelcomindo, secara tidak langsung kita membiayai koar-koar malaysia di ambalat, dan sipadan yang sudah diambil.
Bagaimana dengan Singapura yang cuma negara kecik yang makin bertambah luasnya 1/3 (?) dari pasir Indonesia- sebenarnya mereka cuma kumpulan para calo, yang tidak punya “source” sama sekali, tapi kita haru meng-ekspor dan import dari sana.
Saatnya sekarang Indonesia menata ulang ekonomi kita… karena REAL market dan Nilai Uang Real sebenarnya ada di tanah air kita ini.
MERDEKA !!!
Leave a reply...
Peringatan: posting iklan/promosi langsung dihapus!





