Image 01 Image 02

0
Posted on 31st December 2009 by Ilham Rizqi Sasmita

Hari ini kami menerima laporan gangguan nasional yang terjadi serentak khusus transaksi XL XTRA 5000 dan 10000. Jawaban transaksi dari XL baik lewat software maupun diproses manual adalah:

Isi pulsa tdk bhasil,pastikan paketnya tepat & isi ulangnya tsedia.Pulsa Xtra yg tsedia:10rb,50rb,100rb.Utk pindah ke paket regular,ketik REG ON kirim ke 5566

Solusinya, sebelum melakukan pengisian ke nomor XL XTRA, atau jika terlanjur dikirim dan gagal, minta kepada pelanggan untuk melakukan migrasi/perubahan paket dengan mengirim SMS “REG ON” (tanpa tanda kutip) ke 5566 melalui ponsel pelanggan. Kemudian, lakukan transaksi seperti biasa menggunakan produk XL REGULER.

Belum ada info resmi dari pihak XL mengenai hal ini. Dugaan kami karena produk XL XTRA akan dihapus dan pelanggan XL XTRA harus melakukan migrasi paket ke XL REGULER.

Laporan Gangguan bisa Anda simak di sini:
http://forum.voucha.net/laporan-gangguan/598-trx-xl-selalu-gagal.html

Popularity: 3% [?]

0
Posted on 27th December 2009 by Ilham Rizqi Sasmita

Posting ini saya buat karena judulnya memang sesuai dengan momentum masuknya bulan Muharram, yaitu pergantian tahun hijriah dan maknanya memang pas. Hijrah!

Hijrah itu ya pindah, migrasi, bertransformasi, dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain dengan cara berpindah secara fisik dan juga mental. Ada dua kisah hijrah yang memberi inspirasi kepada saya yaitu hijrahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan longmarchnya Tentara Pembebasan Rakyat China (Route Army ke-8). Sebab keduanya menciptakan efek yang luar biasa: menciptakan momentum perubahan besar-besaran, dan memulai era baru. Hal ini bisa kita pahami sebab dalam hijrah tersebut, banyak keputusan-keputusan penting yang diambil.

Saya pikir tidak perlu menerangkan secara detil mengenai kedua kisah hijrah tersebut, sebab Anda bisa dapatkan literaturnya dengan mudah di perpustakaan. Saya ingin menjelaskan mengapa kami melakukan hijrah. Secara fisik, kami hijrah pindah tempat, pindah kantor dari sebuah paviliun di daerah Bendungan Hilir – Jakarta Pusat ke sebuah rumah di Komplek Dai Chi – Antapani, Bandung. Tentu bukan perkara mudah, jadi memang ada penjelasan yang cukup baik dan masuk akal.

1. Jauh dari rumah, dekat ke customer

Lokasi di Benhil memang dekat dari rumah, dekat dari pusat perniagaan. Tapi lokasi di Bandung, lebih dekat ke customer. Karena kebanyakan customer kami dari Jawa Barat dan paling banyak ada di Bandung. Tentu Anda juga pasti tahu, Bandung adalah salah satu lokasi yang memiliki populasi server pulsa paling besar. Dengan lebih dekat ke customer, kami bisa sering ngobrol, silaturahmi, bertukar pikiran, mendengarkan masukan-masukan dengan lebih baik.

2. Membangun Kultur Kerja Yang Baru

Agar bisa berkembang, kultur harus diubah. Pada awalnya, sistem kerja yang sederhana sudah cukup untuk melayani customer yang masih sedikit. Namun, sudah tidak memadai lagi untuk melayani customer yang makin banyak dan makin beragam. Perlu sistem kerja yang lebih baik dan sistem kerja itu perlu landasan: kultur! Budaya! Pendekatan yang lama mungkin masih efektif, tapi perlu banyak perbaikan. Dimulai dari yang kecil, yaitu kebiasaan, menjadi budaya. Ini proses yang amat panjang, tidak mungkin terjadi dalam 1-2 tahun saja.

3. Lingkungan Kerja Yang Lebih Baik

Lingkungan kerja mendukung produktifitas. Apakah programmer bisa melakukan tugasnya dengan baik? Apakah bagian technical support bisa melakukan tugasnya dengan baik? Itu tergantung lingkungan kerjanya, apakah banyak gangguan atau tidak ada gangguan, apakah kordinasi berjalan dengan baik atau malah kacau. Saya sudah mendefinisikan dengan jelas kebutuhannya yaitu: lingkungan kerja yang tenang dan bisa melakukan kordinasi dengan efektif.

4. Infrastruktur Yang Lebih Baik

Semua kebutuhan di atas tentu saja tidak mungkin terwujud tanpa infrastruktur yang memadai. Kantor di Benhil itu cukup nyaman. Lokasinya tidak berada di pinggir jalan besar, jadi tidak bising, pikiran pun tenang. Tempatnya teduh, dan terjaga keamanannya. Enak buat kerja. Namun kami perlu tempat kerja yang lebih baik infrastrukturnya. Sebab di Benhil tempatnya kecil, tidak cukup lagi untuk tambah orang baru.

Tata ruangan yang efektif, instalasi jaringan listrik, instalasi jaringan internet, pemisahan ruangan programmer dan pelayanan, daya dukung lingkungan terutama air bersih, penyimpanan arsip dan dokumen, butuh sarana dan prasarana fisik yang memadai.

Sekitar bulan Desember 2008, saya mulai mencari informasi mengenai lokasi yang cocok untuk kantor baru. Tanya sana-sini, cari di koran, cari di internet, belum ada yang cocok. Tapi sepertinya, karena niat yang belum bulat sehingga cari infonya juga asal-asalan.

Pada bulan Januari 2009 saya memutuskan untuk membawa motor ke Bandung dan mencari tempat di Bandung sebagai base sementara. Saya putuskan untuk menyewa sebuah paviliun seharga Rp 1,750,000/bulan di Jl. Cikutra Barat No 11, dekat taman makam pahlawan Cikutra. Kegiatan kerja saya pindahkan ke Bandung, sambil mencari informasi lebih giat lagi. Tempatnya enak sih, fasilitasnya kayak hotel lengkap dengan kamar mandi air panas. Tapi karena lokasinya pinggir jalan, suasananya bising sekali sejak jam 6 pagi sampai jam 10 malam. Suara knalpot motor yang lewat bisa mengalahkan volume suara TV. Suara klakson dari angkot cukup nyaring untuk membangunkan orang tidur. Bukan tempat yang cocok untuk kerja.

Saya dapat informasi dari Pak Zaki (Wahana E-Pulsa) ada rumah disewakan di Komplek Dai Chi, Antapani. Komplek apah? Saya kok baru dengar. Itu tuh, depan pertigaan Jalan Purwakarta ada jalan masuk, nah itu jalan ke komplek Dai Chi. Oh, pantesan. Banyak yang tidak tahu lho, sebab biasanya orang hanya memperhatikan Jalan Purwakarta. Selain itu, jalan tersebut hanya menuju komplek Dai Chi dan komplek Sulaksana Makmur, jadi tidak banyak orang yang lewat situ selain penghuni komplek sendiri.

Saya datang ke komplek Dai Chi di suatu siang di bulan Februari 2009. Tanya ke satpam di pos, “Pak, ada rumah yang dikontrakin nggak”. “Ada tuh, nomer 28 sama nomer 47″. Saya lihat-lihat, dan tanya-tanya ke satpam. Akhirnya, saya cocok dengan rumah nomor 47 dengan sewa per tahun Rp 30jt. Rumah nomor 28 memang lebih murah, Rp 25-27jt per tahun tapi dekat dengan sebuah sekolah, jadi kalau siang malah ramai. Saya segera bertemu dengan pemilik rumah dan menyetor tanda jadi. Keesokan harinya, secara bertahap saya pindahkan barang-barang di Cikutra ke Dai Chi.

Awal Maret 2009, rumah di Dai Chi sudah siap beroperasi dengan peralatan seadaanya. Komputer, laptop, router, perangkat jaringan lainnya, sudah terpasang dengan baik. Begitu juga koneksi internet menggunakan Speedy. Satu-persatu, setahap demi setahap, semua peralatan saya pindahkan dari Benhil ke Bandung. Pelan-pelan, nyantai saja. Sekarang di Benhil masih ada sisa 1 buah printer, 1 wireless router, 1 modem kabel, dan buku-buku.

Jujur saja awalnya saya merasa agak berat, sebab kalau menghitung biaya yang dikeluarkan untuk hijrah ini lumayan banyak. Untuk rumah, perabotan, dan peralatan kantornya saja sudah menelan lebih dari Rp 50jt. Jumlah yang cukup besar waktu itu. Tapi buat saya, itu memang harga yang harus dibayar kalau memang yakin hijrah ini akan berhasil. Dibandingkan masa depan, dibandingkan transformasi yang bisa kita jalankan, dibandingkan dengan hasilnya tentu jadi relatif kecil nilainya.

Nah, begitulah ceritanya. Jadilah kantor kami yang baru di Komplek Dai Chi Kav 47. Tempat yang cukup kondusif, tenang, dan lingkungannya juga baik. Mau lihat foto-fotonya? Silakan mampir ke album foto Facebook saya.

Komplek Dai Chi Kav 47

Popularity: 3% [?]

0
Posted on 17th December 2009 by Ilham Rizqi Sasmita

Sudah lebih dari 3 minggu, jaringan internet utama kami yang menggunakan Telkom Speedy mengalami gangguan. Koneksi tiba-tiba terputus, selang beberapa menit kemudian normal, tetapi selang beberapa menit kemudian putus lagi. Gangguan ini sudah kami laporkan ke 147 line 2 sejak 3 minggu yang lalu.

Dari petunjuk operator 147, ternyata jalur telepon juga mengalami gangguan sebab suaranya tidak jernih, banyak noise. Akhirnya kami disarankan untuk melaporkan gangguan tersebut ke line 3 (Layanan Telephony). Setelah melaporkan ke line-3, selang beberapa jam kemudian ada teknisi dari Telkom yang memeriksa jalur telepon dan memang ditemukan ada problem di kabel luar.

Setelah diperbaiki, telepon normal, tidak ada noise dan jernih. Tetapi koneksi Speedy masih putus-putus. Akhirnya kami laporkan kembali ke 147 line-2. Akhirnya disuruh menunggu selama 3-hari. Wow! Bisa dibayangkan selama 3 hari tersebut, praktis pekerjaan kami jadi banyak terganggu. Bagian pelayanan yang biasa melakukan remote TeamViewer tidak bisa melakukan tugasnya karena ketika melakukan remote, tiba-tiba terputus. Bagian marketing yang biasa menggunakan Yahoo! Messenger sering terputus ketika melakukan chat. Saya sendiri ketika mengirim file ke server juga terputus di tengah jalan.

Karena problem ini makin sering terjadi, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan koneksi lain sebagai backup. Pilihan jatuh ke layanan Simaya SOHO mengunakan wireless. Setelah bicara melalui telepon dengan orang marketingnya, keesokan harinya teknisi Simaya melakukan survey lokasi dan hasilnya cukup bagus. Akhirnya, saya minta agar segera dilakukan pemasangan.

Keesokan harinya, teknisi Simaya datang membawa perangkat wireless dan kabel UTP sepanjang kira-kira 20 meter. Dengan menggunakan pipa besi sepanjang 4 meter, antenna dipasang di atap belakang. Pekerjaan ini memakan waktu kira-kira 4-5 jam sampai konfigurasi wireless selesai dan koneksi internet berjalan dengan baik.

Dengan dua koneksi tersebut, kami tetap dapat bekerja jika Speedy tiba-tiba putus.

Namun, hari ini koneksi Speedy makin parah. Hari ini saja, sudah lebih dari 2 jam terputus. Bahkan telepon kami pun tidak dapat digunakan sama sekali, tidak bisa telepon ke luar. Namun, nomornya masih bisa ditelepon dari luar.Kami khawatir, para pelanggan yang biasa menelepon ke nomor tersebut tidak bisa dilayani.

Ayo doooooong, benerin dong. Udah 3 minggu lebih nih. Gimana mau maju kalau koneksinya kayak gini.

Popularity: 3% [?]

0
Posted on 13th December 2009 by Ilham Rizqi Sasmita

Semenjak lebaran Idul Fitri 1430H yang lalu, kami telah banyak menerima oleh-oleh dari para pengguna Voucha di Kalimantan, Jambi, Cirebon, dan lain-lainnya. Namun, sepertinya saya atas nama pribadi dan tim belum pernah mengucapkan terima kasih untuk pemberian tersebut. Oleh karena itu melalui posting ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk pemberian bapak/ibu dan rekan-rekan. Sungguh maaf kalau saya kelupaan.

Ada kopi Jambi dari Pak Johan. Ada Mandau dan jam dinding dari Pak Robin dari Banjarmasin, katanya sempat bingung pas mau dibawa ke pesawat. Ada kaos, sarung, sirup dan juga terasi dari Pak Robbi. Terasinya enak sekali dibuat sambal. Ada kue dan bollen dari Pak Dwi Lesmana di Padalarang. Ada kue bolu dari Pak Atok di Cileunyi. Ada brem Bali dari Pak Wayan. Belum lagi cemilan-cemilan dari Anda yang datang singgah ke Dai Chi. Apa saja ya, wah saya sudah tidak bisa sebut satu per satu.

Sebagian dari oleh-oleh itu, karena perut kami tidak mungkin menghabiskannya sendiri, kami bagikan saja ke tetangga atau ke pekerja kompleks yang sering mampir. Eh, besoknya malah dikasih pisang segepok sama tetangga. Jadilah pisang goreng sama kolek pisang menemani kami di sore hari, bukan bulan puasa ya. Setelah kerja seharian, sorenya makan pisang goreng, kolek pisang sambil minum kopi Jambi. Uedddiyannn…polll

Terus terang saya juga tahunya pas sudah dihidangkan. “Lho, bu ini pisang dari mana? Lho, bu ini makanan dari siapa?” Baru deh si ibu cerita…blablabla…

Mohon maaf, karena kesibukan luar biasa sepanjang bulan Oktober-Desember ini, saya jadi lupa bilang terima kasih. Sekali lagi terima kasih banyak kepada rekan-rekan semua untuk oleh-olehnya.

Uennaak sekalliiiiii…..maknyussss

Popularity: 3% [?]