Dirgahayu 66 Tahun Kemerdekaan Indonesia
Posted on 18th August 2011 by Ilham Rizqi SasmitaMenjelang hari kemerdekaan, saya sering menikmati bagaimana orang merayakan hari kemerdekaan. Ada yang ganti profile picture di Facebook, ada yang kirim Tweet dengan hashtag tertentu, ada yang mengubah tampilan blognya, ada yang memasang badge di website atau blognya, sungguh semarak.
Saya termasuk orang yang senang merayakan hari kemerdekaan. Dulu saya sering mengganti tampilan blog menjadi merah putih menjelang tujuhbelasan. Saya juga sering ganti profile picture jadi bendera merah putih. Kirim pesan MERDEKA! ke mana-mana. Saya senang melakukannya sebab ada kenikmatan tertentu ketika mengerjakannya. Rasanya bangga, jadi tambah semangat, jadi makin bersemangat. Hanya tahun ini saja saya lupa :p (ah alesan aja, padahal mah males ngedit CSS yang bejibun hehehe).
Namun ada baiknya juga kita melakukan introspeksi, apa itu merdeka, katanya merdeka kok saya masih susah, katanya merdeka kok masih banyak yang miskin. Nah, pertanyaan ini bagus sebab membuka pikiran.
Apakah kita sudah merdeka? Tentu saja sudah. Lho kok saya masih susah, kok masih banyak yang miskin? Nah itu soal lain. Susah atau miskin bukan indikator ketidakmerdekaan, bukan pembatal kemerdekaan. Sebab kemerdekaan itu pada dasarnya berdaulat sebagai bangsa yang utuh. Kalau masih merasa susah, atau masih miskin, ya itu derita lo :p …. hehehe becanda masbro…
Pertanyaan saya, siapa yang merasa susah? Siapa yang merasa masih kekurangan? Kalau kaum dhuafa yang penghasilannya di bawah garis kemiskinan (Rp 10.000/hari) merasa kesusahan dan mengaku kurang sejahtera ya pantas. Situasinya memang demikian. Kalau pemain server yang transaksinya 20.000 per hari merasa susah? Nah ini yang aneh.
“Lho gimana gak susah mas, transaksi saya turun terus sejak clusterisasi.” Oke baiklah mari kita hitung secara kasar.
Dengan asumsi, nilai transaksi rata-rata itu sekitar Rp 15rb, maka dengan 20.000 transaksi per hari maka omset per harinya adalah sekitar Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah). Setara dengan 30.000 kali penghasilan kaum dhuafa. Kalau sebulan itu ada 30 hari, maka omset perbulannya sekitar Rp 9.000.000.000 (Sembilan Miliar Rupiah). Jumlah yang tidak sedikit bukan? Tapi katanya margin kotor pertransaksi itu tipis sekali. Iya, berapa? Sekitar 1%, maka margin kotor per-bulannya adalah Rp 90.000.000 (Sembilan Puluh Juta Rupiah).
Dengan laba kotor 90 juta sebulan, apakah pantas merasa susah? Apakah pantas merasa kekurangan?
Kalau kaum dhuafa dengan penghasilan di bawah Rp 300.000/bulan harus kita kasihani, nah sebetulnya yang omsetnya Rp 9M per bulan dan merasa susah itu yang paling kasihan. Sebab dengan kekayaan sebanyak itu pun ia masih kekurangan.
Karena merasa kekurangan dan merasa kesusahan, maka pengeluaran sebesar Rp. 50.000 pun sudah kemahalan. Padahal, dibandingkan keuntungannya yang 90 juta rupiah, itu cuma 0.05 persen, 1% dibagi 20.
Apalagi untuk beli lisensi Windows yang resmi? Sudah pasti kemahalan. Pasti milih pakai Windows bajakan :p
Jadi maksud saya adalah susah atau sejahtera itu belum tentu karena penghasilan. Toh, mereka yang penghasilannya besar pun masih merasa susah. Apa mungkin perusahaannya bisa jalan dan mendapatkan penghasilan sebesar itu kalau negaranya masih dijajah atau tidak merdeka?
Tips yang sering diajarkan orang tua kepada saya adalah pandai bersyukur. Kalau tak pandai bersyukur, pasti pandai mengeluh. Mana ada orang yang bersyukur tapi mengeluh terus? Sebaliknya, sulit bagi seorang pengeluh untuk mengucap syukur walaupun penghasilannya sudah berlimpah.
Jadi, apakah kita sudah Merdeka? Tentu saja. Apakah semuanya sudah berkecukupan? Belum tentu. Itu harus dilihat kasus per kasus, tak bisa pukul rata. Sebab itu tergantung pribadinya, apakah pandai merasa cukup atau pandai merasa kurang. Apakah pandai merasa lapang atau pandai merasa sempit?
Kalau pada dasarnya memang pandai bersyukur, dikasih banyak ya makin bersyukur. Kalau pada dasarnya pandai mengeluh, dikasih makin banyak ya makin sering mengeluh. Kalau pada dasarnya memang pandai merasa susah, makin besar omsetnya ya makin susah.
Semoga dicukupkan bagimu nikmat Tuhanmu yang berlimpah dan rezeki dari Tuhanmu yang halal. Semoga dilimpahkan pula bagimu kelapangan dan dijauhkan dari kesempitan.
Dirgahayu Indonesiaku, semoga kualitas manusianya makin maju dan pemimpinnya makin adil. Untuk segala kekhilafan dan kekurangan, saya mohon maaf
Popularity: 1% [?]
PT. Sandiloka
Komplek Dai-Chi Kav 47 Antapani - Bandung
022-7104067, 022-92888777
http://voucha.co.id
http://voucha.net
Leave a reply...
Peringatan: posting iklan/promosi langsung dihapus!





