Image 01 Image 02

5
Posted on 14th April 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

“Buruk Muka Cermin Dibelah” ~Peribahasa Indonesia

Tindakan mencari kambing hitam, atau istilah bahasa Inggrisnya Scapegoating didefinisikan sebagai:

Scapegoating is a tactic often employed is to characterize an entire group of individuals according to the unethical or immoral conduct of a small number of individuals belonging to that group, also known as guilt by association.

Dalam peribahasa Indonesia dikenal dengan peribahasa “Buruk Muka Cermin Dibelah”. Saya lebih sering menggunakan istilah “mentransfer kesalahan” kepada pihak lain untuk menanggung akibat dari kesalahan yang kita lakukan sendiri.

Tindakan mencari kambing hitam kerap kali muncul dalam setiap hubungan antar-manusia. Seringkali dilakukan oleh pihak yang “superior” kepada pihak yang “inferior” untuk menutupi kesalahannya. Jika ini dilakukan dalam manajemen, kambing hitam diciptakan sebagai sasaran transfer kesalahan pihak eksekutif (yang akuntabilitasnya buruk) untuk membersihkan namanya. Kambing hitam dalam urusan ini adalah karyawan yang lebih rendah jabatannya.

Dalam lingkup yang lebih besar, sasaran kambing hitam bisa berupa individu maupun kelompok tertentu. Sasaran paling gampang adalah kelompok yang memiliki karakteristik tidak jelas. Ada, tapi tidak ada. Pemerintah Orde Baru paling lihai dalam hal ini. Anda pasti masih ingat bagaimana Orde Baru menciptakan istilah OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) untuk menghakimi oposisi yang mengkritik kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan eksekutif Orba.

Nah. Sadar atau tidak, kita ini sering melakukan scapegoating,  mencari kambing hitam. Tujuannya untuk meringankan beban akibat perasaan bersalah dari masalah yang kita timbulkan, untuk menggalang solidaritas, untuk menarik simpati kelompok lain. Kalau kita adalah seorang pimpinan, itu adalah wujud akuntabilitas pimpinan yang buruk. Kalau kita adalah individu, maka itu adalah wujud pribadi pecundang (looser) atau inkompeten.  Kalau kita adalah sebuah grup/divisi/kelompok, maka itu adalah wujud impotensi grup atau divisi tersebut.

Kalau kita adalah target kambing hitam, maka tindakan kambing hitam dari pihak lain adalah salah satu indikasi bahwa wujud eksistensi kita tidak jelas jadi gampang dijadikan objek spekulasi pihak lain. Antara ada dan tidak ada. Mau diajak kerjasama, tapi tidak jelas entitynya, perusahaan bukan, kelompok bukan, perorangan juga bukan, tidak jelas siapa yang bisa pegang komitmen. Mau dimusuhi juga tidak jelas sikapnya, dibilang melawan tapi ada juga yang ikut, dibilang menyerah tapi ada juga yang boikot. Serba tidak jelas.

Ada baiknya ini jadi pertimbangan untuk memperbaiki diri. Pihak yang mencari kambing hitam, sebaiknya memperbaiki kemampuannya/kapabilitasnya/kompetensinya menghadapi masalah dan bertanggung jawab dalam setiap kebijakan atau keputusan. Pihak yang dikambinghitamkan, sebaiknya memperbaiki diri dengan sikap yang jelas, pernyataan yang jelas, dan WUJUD yang jelas bentuk hidungnya. Sebab, selama eksistensinya ngawur tidak jelas, selama itulah kita jadi objek spekulasi pihak lain yang sebetulnya mereka itu tidak kompeten atau akuntabilitasnya buruk, tidak mau menanggung akibat dari keputusan yang salah, sehingga terus mencari kambing hitam.

Mohon jangan lihat tulisan ini sebagai kritik. Ini saya buat sebagai nasihat untuk diri sendiri, sebab baik sadar atau tidak, saya juga pernah begitu. Setiap kali saya baca tulisan ini, saya bisa ingat kembali. Eling.

Saya yakin Anda juga pernah begitu.

Nah, karena kebutuhan mencari kambing hitam ini ternyata cukup tinggi. Saya jadi berpikir untuk berbisnis jualan kambing hitam saja. :D

Popularity: 3% [?]

91
Posted on 12th April 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Inilah komik “Kisah Isi Ulang” dari XL yang cukup provokatif itu.

Kisah Isi Ulang XL

Untuk format yang lebih besar silakan download gambar dengan resolusi berikut: 240×320, 600×800, 900×1200.

(Update #1)
Download resolusi yang lebih besar: 1200×1600.

Dalam cerita tersebut, yang ditonjolkan adalah citra bahwa isi ulang lewat sistem “multichip” itu memakan waktu lama, bisa sampai satu jam. Seolah-olah, secara umum atau keseluruhan sistem “multichip” itu selalu lambat. Padahal kasus seperti ini adalah kasus gangguan yang disebabkan gangguan jaringan operator itu sendiri. Dalam kondisi normal tidak ada gangguan, maka pengisian pulsa hanya berlangsung dalam tempo beberapa detik saja.

Sepertinya gaya campaign/marketing communication XL sejak Price War I – 2008 memang tidak ada perubahan. Bagaimana menurut Anda?

(Update #2)
Jika Anda dari pihak XL, baik pelaksana, pengambil keputusan maupun pemegang saham, ada baiknya Anda mengikuti diskusinya di mailinglist pulsa. Monggo..

Popularity: 7% [?]

0
Posted on 28th March 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Kami Tim Developer Voucha3 telah menjadwalkan rilis stabil berikutnya untuk Voucha3 Device 3.1.1 dan Voucha3 Forwarder 3.1.1.

Voucha3 Device 3.1.1 kami rilis untuk membantu user Voucha3 yang sering mendapatkan respon ‘+CUSD: 4′ (Operation not Supported) dan jawaban BLANK/KOSONG dari sistem MKIOS dan DOMPETPULSA.

Voucha3 Forwarder 3.1.1 kami rilis untuk mendukung Protokol Bandung version 1.0. Mulai versi tersebut, Anda sudah bisa terkoneksi dengan semua penyedia H2H yang sudah mendukung Protokol Bandung version 1.0.

Operation Not Supported (+CUSD: 4) dan BLANK RESPONSE

Sebagaimana kita ketahui bersama, problem tersebut kini makin meningkat frekuensinya di seluruh Indonesia.Perlu dipahami bahwa Voucha3 menampilkan problem dalam bentuk pesan kesalahan APA ADANYA, dan problem ‘+CUSD: 4′ maupun jawaban BLANK itu tidak ada solusinya sebab terjadi di sisi jaringan operator.

Perubahan yang akan disertakan di rilis Voucha3 Device 3.1.1 tersebut antara lain dalam bentuk opsi, apakah ‘+CUSD: 4′ akan diproses sebagai transaksi suspect, gagal atau diproses oleh device lain secara otomatis.

MKIOS

Dompet Pulsa

Berikut jadwal rilis untuk masing-masing package yang akan tersedia untuk para pengguna aktif.

Software Package Jadwal
Voucha3 Device 3.1.1 Jumat, 23 April 2010
Voucha3 Forwarder 3.1.1 Jumat, 21 Mei 2010

Bagi Anda yang menginginkan versi Release Candidate (RC) untuk Voucha3 Device 3.1.1, bisa mendownload Voucha3 Device 3.1.1 build 440. Silakan hubungi Vouchacare. Jika masa aktif Anda sudah habis, silakan lakukan perpanjangan dahulu untuk mendownload.

Popularity: 3% [?]

0
Posted on 28th March 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Hasil kesepakatan Konferensi Developer Software Pulsa se-Indonesia 2010 pada 20 Maret 2010 yang lalu melahirkan protokol standard yang disebut dengan Protokol Bandung 1.0. Dengan adanya protokol standard ini, kedepannya semua server pulsa di seluruh Indonesia bisa saling terkoneksi tanpa hambatan perbedaan spek protokol yang digunakan.

Sebagian besar orang menyangka bahwa protokol standard ini MENGGANTIKAN protokol h2h yang sudah ada. Anggapan tersebut keliru. Protokol standard TIDAK MENGGANTIKAN protokol h2h yang sudah ada. Bagi mereka yang sudah nyaman terkoneksi ke Winpulsa menggunakan protokol Winpulsa tetap bisa menggunakan modul untuk koneksi ke sana. Begitu juga yang sudah nyaman terkoneksi ke Siputri, Eratel, Datacell, Telesindo, dll. Begitu juga protokol h2h antara pengguna software yang sama.

Jadi, protokol standard ini sifatnya membuka “pintu” yang baru. Bagi pihak pembeli, Anda tidak perlu beli modul lagi untuk terkoneksi dengan ribuan supplier h2h yang softwarenya berbeda. Cukup satu modul standard yang menggunakan Protokol Bandung 1.0, Anda sudah bisa terkoneksi dengan mereka. Bagi pihak supplier yang servernya sudah mendukung Protokol Bandung 1.0, kini lebih banyak software yang support untuk terkoneksi ke servernya. Proses terjadinya kerjasama dan pertukaran stok kini tidak tersandung problem teknis hanya karena softwarenya berbeda-beda.

Bagi pihak developer, keuntungannya adalah WAKTU! Sebelumnya kita sering habis waktu percuma untuk membuat koneksi h2h. Untuk membuat satu koneksi h2h, prosesnya tidak mudah. Dokumentasi tidak jelas, pesan jawaban tidak konsisten antara tipe variabel dan panjangnya, pengiriman reversal yang susah ditelusuri. Untuk berkomunikasi dengan pihak developer juga tidak mudah menemukan kecocokan waktu dan persamaan persepsi. Dengan protokol standard, kita punya acuan yang sama, terdokumentasi dengan jelas dan terhindar dari WAKTU yang terbuang sia-sia!

Inilah interpretasi ulang semangat Bhineka Tunggal Ika di abad 21. Walaupun softwarenya beda-beda, tapi bisa tuker-tukeran stok satu sama lain :D

Bagi Anda yang membutuhkan Protokol Bandung version 1.0 revisi 24 Maret 2010, silakan download di milis pulsa dengan alamat:

http://groups.yahoo.com/group/pulsa/files/Protokol-Standard-H2H/

Untuk dokumentasi di web maupun wiki, mohon bersabar ya…

Popularity: 2% [?]

0
Posted on 18th March 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Bagi Anda peserta Konferensi Developer Software Pulsa se-Indonesia di Bandung pada 20 Maret 2010, berikut petunjuk lokasi dan route jalan menuju lokasi konferensi: Hotel Novotel Bandung, Jalan Cihampelas No 23 Bandung. Semoga membantu.

Dari Tol Pasteur – Dr Djunjunan


View Larger Map

Dari Tol Pasirkoja


View Larger Map

Dari Stasiun Kereta Api – Bandung


View Larger Map

Popularity: 2% [?]

0
Posted on 24th February 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Saat ada Kumpul Solidaritas Penjual Pulsa di Ciumbuleuit – Bandung pada Selasa, 16 Februari 2010 yang lalu ada salah satu usulan yang kembali diangkat yaitu perlunya protokol standard host-to-host. Tujuannya supaya memudahkan server pulsa di Indonesia untuk saling terkoneksi satu sama lain. Sebab, tidak bisa dipungkiri, dengan banyaknya software dengan beragam spek interkoneksinya jadi kendala bagi pengguna untuk saling terkoneksi satu sama lain.

Untuk terkoneksi dengan temannya yang berbeda software, pengguna harus beli modul baru, harus menunggu dulu, harus ditest dulu supaya bisa nyambung. Nah, seringkali ketika modulnya sudah jadi, harganya sudah tidak menarik lagi :D

Kalau ada satu protokol standar yang sama, developer cukup buat satu modul h2h saja dan bisa dipakai ke server manapun. Penggunanya juga tidak perlu nunggu lama, tidak perlu beli modul lagi, cukup pakai modul standardnya saja. Ini bisa memperkuat jaringan antar server pulsa di Indonesia karena proses interkoneksinya makin mudah.

Kebetulan waktu acara di Bandung tersebut, baru ada saya, Edwin (Astapulsa), dan Semar software. Dan sampai hari ini sudah ada konfirmasi dari Siputri, FM, dan Supersoft. Saya ingin mengajak developer yang lain untuk membahas protokol standar tersebut. Kemarin baru sampai wacana, belum sampai isu teknis. Tapi saya yakin, masing-masing sudah punya konsep sendiri. Tinggal kita diskusikan bagaimana menyatukannya saja.

Untuk tahap selanjutnya, saya mengundang rekan-rekan untuk diskusi mengenai konsep tersebut. Kalau tidak memungkinkan bertemu kopi darat, bisa lewat conference di YM. Untuk waktunya, mohon usulan waktu yang paling dekat dan paling realistis :D

Silakan hubungi saya di email irs[at]unitedcoders.net, atau lewat Facebook.

Popularity: 2% [?]

24
Posted on 24th February 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Pelanggan Telkomsel Yang Terhormat,

Sejak awal Februari 2010, para penjual pulsa elektrik Telkomsel di seluruh Indonesia tidak diperbolehkan untuk melakukan pengisian ke nomor luar regionalnya. Jadi penjual di Cianjur tidak bisa mengisi nomor pelanggan Jabotabek, penjual di Bandung tidak bisa mengisi nomor pelanggan Jabotabek, penjual di Lampung tidak bisa mengisi nomor pelanggan dari Banten, penjual di Bali tidak bisa mengisi nomor pelanggan dari Pasuruan atau Banyuwangi. Kebijakan ini berlaku nasional, di seluruh Indonesia. Jika ada pengisian ke nomor luar regional, yang disebut dengan transaksi cross-region, maka penjualnya dikenakan sanksi yaitu pemblokiran chip MKIOS yang digunakan untuk transaksi lintas tersebut.

Oleh sebab itu, para reseller termasuk penyedia all-operator tidak berani untuk melakukan pengisian ke nomor Anda. Transaksi ke nomor Anda akan ditolak oleh sistem milik reseller (bukan sistem milik dealer maupun sistem milik Telkomsel), untuk menghindari sanksi pemblokiran dari dealer. Bagi Anda yang sering komuter Jakarta – Bandung, Jakarta – Lampung, Jakarta – Cirebon, Jakarta – Tasikmalaya, atau Anda yang sedang bertugas ke pelosok/luar daerah (tentara, polisi, insinyur pertambangan, dll) pasti menemukan kendala dalam melakukan pengisian. Apalagi jika Anda bepergian ke luar daerah tiap Sabtu dan Minggu, mungkin pernah melihat spanduk seperti gambar berikut.

Kami menerima banyak laporan di lapangan adanya perselisihan dan pertengkaran antara penjual dan pelanggan akibat kebijakan tersebut. Jika Anda telepon ke Customer Service di nomor 116 melalui ponsel, maka Anda akan mendapatkan penjelasan bahwa pengisian bisa dilakukan di manapun. Penjelasan Telkomsel tersebut memang benar adanya. Namun, pada prakteknya di lapangan, para penjual dilarang oleh dealernya untuk melakukan pengisian ke nomor luar regional.

Memang ada limit sebesar 5% untuk transaksi cross-region. Namun kami mengalami banyak kendala secara prinsip maupun teknis untuk memenuhinya, antara lain:

  1. Data HLR tiap region yang kurang lengkap disebabkan sumber yang berbeda-beda.
  2. Peredaran nomor baru yang belum bisa dideteksi oleh sistem.
  3. Adanya nomor daur-ulang/recycled.
  4. Akurasi yang tidak sama untuk tiap tempat.
  5. Tidak ada data resmi dari Telkomsel.
  6. Simpang siur informasi, tidak ada informasi resmi dari Telkomsel.

Sementara pihak Telkomsel belum bisa memblokir di sistem mereka karena keterbatasan teknologi yang digunakan. Oleh sebab itu, para penjual tidak berani mengambil resiko chip MKIOS-nya diblokir oleh dealer dan menolak transaksi ke nomor Anda. Ya, Anda tentu paham bahwa itu rancu sebab transaksi lintasnya bisa dideteksi, tapi tidak bisa diblokir.

Ada beberapa solusi yang mungkin cocok untuk Anda jika kesulitan untuk mengisi nomor Telkomsel, yaitu:

  1. Bagi Anda yang pergi ke luar daerah untuk sementara, bisa menggunakan nomor sementara sebagai calling-card (sekali pakai, bisa dibuang, tidak perlu isi pulsa). Cocok untuk Anda yang sedang bertugas, liburan, belanja, melakukan liputan, dll.
  2. Bagi Anda yang pergi ke luar daerah secara rutin, bisa mengganti nomornya dengan nomor operator lain yang lebih mudah diisi di mana saja tanpa batasan regional. Cocok untuk Anda yang sering pulang-pergi tiap minggu ke Ibukota.
  3. Bagi Anda yang keberatan dengan dua solusi di atas, bisa melakukan pengisian lewat mesin ATM atau mobile-banking yang bisa memberikan kemudahan bertransaksi di mana saja.

Ada solusi lain yang lebih baik? Silakan isi komentar Anda di bawah tulisan ini. Anda juga bisa bergabung ke Grup Facebook kami di sini dan silakan tulis pendapat Anda.

Popularity: 4% [?]

0
Posted on 22nd February 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Kegiatan update HLR ini paling setahun sekali, yaitu pada saat cross region Telkomsel diperketat lagi. Pada saat longgar, tidak ada yang merespon. Kalau minta datanya, lama nggak ada respon. Kalau sekarang, semuanya langsung pada kirim update HLR dari dealer masing-masing :D

Terima kasih kepada Anda yang sudah mengirim data HLR kepada kami.

Anyway, kami mengalami kesulitan untuk melakukan update karena hal-hal sebagai berikut.

1. Semua bilang paling valid

Ada beberapa data yang tidak cocok satu sama lain. Menurut versi A, prefix sekian punya Pontianak. Tapi menurut versi B, prefix tersebut punya Jawa Tengah. Setelah dikonfirmasi, semua mengatakan bahwa sumbernya dari dealer dan pasti valid. Karena semua paling valid, dan ada yang tidak cocok, maka kami kesulitan untuk mengupdate. Ini sulitnya kalau dari pihak Telkomsel tidak ada data resmi, jadi mana yang bener?

2. Format tidak sama

Satu dealer, formatnya berbeda dengan yang lain. Isi kolomnya juga beda-beda. Ini yang cukup menyita waktu lama, sebab harus diubah satu-persatu ke format yang sudah kami gunakan. Kalau cuma beda +6281xx dengan 081xx tidak begitu jadi soal, tapi kalau format kolomnya beda?

Apakah ada standar penomoran HLR yang resmi dari Telkomsel?

3. Kurang Lengkap

Ada yang prefixnya banyak, tapi tidak ada data lokasi. Ada yang cuma satu regional saja. Ada yang isinya prefixnya doang, hehehe, saya paham banget nih…situ juga males kan ngeditnya :D .

Nah begitulah kondisinya. Kita ini lagi diuji kesabarannya. Ini semua karena tidak ada satu data resmi yang standard dari Telkomsel. Jadi saya dengan Anda tidak perlu berselisih atau ngomel-ngomel untuk satu hal yang di luar kendali kita. Slow aja. Satu-persatu pasti selesai.

Btw, saya sudah bikin format standard yang bisa dikirimkan supaya prosesnya lebih cepat dan mudah dicek. Silakan masuk ke Forum Voucha: Cara mengirim data HLR. Tenang, kami pasti bantu.

Tapi kalau tahun depan kayak begini lagi…

Popularity: 2% [?]

0
Posted on 20th February 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Free trade itu bukan cuma operator China masuk ke Indonesia. Kalau itu sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu.

Tapi outlet di sebelah Anda,  yang punya orang China, atau orang Vietnam. Sopir Taksi di kota Anda orang India. Sopir Bajaj orang Thailand. Koki restoran padang orang China. Yang jualan software di Mangga Dua orang Rusia. Sopir Busway orang Filipina. Tukang cukur orang Yaman. Tukang besi tua orang Afghanistan. Tukang buah segar orang Korea. Tukang nasi gorengnya orang Jepang. Tukang ojeknya dari Srilanka.

Server all-operatornya? Bagaimana kalau sodara kita, Malaysia.

Nah, makanya hati-hati kalau ngomong Free Trade.

Popularity: 2% [?]

0
Posted on 12th February 2010 by Ilham Rizqi Sasmita

Kami menemukan satu lagi problem aneh pada pembacaan SMS yang diterima dalam format PDU. SMS yang diterima dalam format PDU tersebut sepertinya rusak sehingga pada saat encoding maka akan muncul pesan kesalahan. Problem ini terjadi pada semua device yang menggunakan pembacaan SMS seperti SMS Client, Dompet Pulsa, Indosat Sev, Axis, dan Three namun tidak terjadi pada device CDMA seperti Esia, Fkios, maupun Fren.

Contoh 1: Invalid PDU (SMS Client)

07912618485400F906580D9126789867
5756F601202190944082012021909440
8220FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF

Pesan kesalahan: ‘FF’ is not a valid integer value.

Contoh 2: Invalid Date Time Value (Dompet Pulsa)

07912618485400F9060A038164F10120
21905052820120219050528200FFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF
FFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFFF

Pesan kesalahan: ”2005/25/28 10:2:12,0” is not a valid date and time.

Contoh 3: Invalid Date Time Value (Indosat SEV)

059126181642040ED0CD1655FE76A7D7
0000012616282826AD0B2FB9C9EA7C36
E603090B47CAEB3C372103C4C0E8362B
2174C068AD974321BA8EEA6D7D72018A
E86ABE56AB11A2D66034DABCB6971EA9
296CDBAD84C26B3D57232DC0D34A5BFD
72069F95C6787E5A0B09B1C06CD6C331
7

Pesan kesalahan: ”2010/62/61 82:82:62,0” is not a valid date and time.

Problem ini pertama kali dilaporkan pada 2010-01-22 09:01 (22 Januari 2010 pukul 09:00). Total laporan sampai tulisan ini dibuat adalah sebanyak 743 laporan! Jumlah yang luar biasa.

Kami belum mengetahui apa penyebabnya secara pasti. Algoritma pembacaan SMS dalam format PDU tidak mengalami perubahan sejak versi 3.0. Selain itu, problem ini tidak selalu terjadi tiap hari (acak).

Ada kemungkinan dari hardware (modem) yang digunakan atau mungkin juga dari jaringan GSM. Kami belum tahu. Jika rekan-rekan mengetahui informasi yang lebih baik, dengan senang hati kami akan menerimanya. Jika ada kesalahan dari software (algoritma), dengan senang hati kami perbaiki.

Popularity: 2% [?]